Senin, 21 Januari 2013

Makalah Polusi air


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari–hari kita membutuhkan air yang bersih untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan kepentingan lainnya. Air yang kita gunakan harus berstandar 3B yaitu tidak berwarna, tidak berbau dan tidak beracun. Tetapi banyak kita lihat air yang berwarna keruh dan berbau sering kali bercampur dengan benda–benda sampah seperti plastik, sampah organik, kaleng dan sebagainya. Pemandangan seperti ini sering kita jumpai pada aliran sungai, selokan maupun kolam- kolam. Air yang demikian disebut air kotor atau air yang terpolusi.
Air yang terpolusi mengandung zat-zat yang berbahaya yang dapat menyebabkan dampak buruk dan merugikan kita bila di konsumsi. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Kemanfaatan terbesar danau, sungi, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata.
Namun bagi kita, khususnya masyarakat pedesaan, sungai adalah sumber air sehari–hari untuk kelangsungan hidup. Mereka kurang begitu peduli kandungan yang terdapat pada air tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
  • Apa pengertian polusi air?
  • Apa yang menyebabkan terjadinya pencemaran air?
  • Bahaya apa saja yang ditimbulkan oleh air yang tercemar?
  • Apa yang harus dilakukan untuk mencegah dan mengatasi pencemaran air?
1.3 Tujuan Penelitian
  • Agar manusia lebih dapat memahami bahaya polusi air
  • Agar dapat membedakan air yang bersih dan air yang sudah tercemar
  • Dapat lebih berhati- hati dalam menggunakan air yang bersih dan yang terpolusi
  • Dapat mengetahui kandungan air yang terpolusi
1.4 Batasan Masalah
Berhubung luasnya bahasan masalah mengenai polusi air, maka dalam penyusunan makalah ini diberi beberapa batasan masalah yang akan dibahas yaitu macam-macam sumber polutan air, penyebab polusi air, bahaya polusi air, dan usaha untuk mencegah dan menanggulangi polusi air yang telah terjadi.
1.5 Metode Penelitian
                Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah jenis metode penelitian gabungan yang menggabungkan metode penelitian studi pustaka sebagai sumber referensi dan studi lapangan untuk mengembil data langsung di lokasi penelitian.

1.5.1 Rancangan Hipotesis Penelitian

1)      Apakah terdapat banyak sampah di situ babakan? Ya
2)      Apakah air di situ babakan sudah keruh dan dangkal? Ya
3)      Apakah masyarakat masih menggunakan air situ babakan? Tidak
4)      Masih adakah ekosistem di perairan situ babakan? Ya ada
5)      Apakah terdapat bau pada air sumur cirangkong? Tidak
6)      Apakah terjadi perubahan warna air di sumur cirangkong? Tidak
7)      Apakah terjadi perubahan terhadap rasa air sumur cirangkong? Tidak
8)      Apakah terjadi sedimentasi sampah pada sungai leuwikopo? Ya
9)      Apakah terjadi perubahan terhadap warna pada air sungai leuwikopo? Ya
10)  Apakah masyarakat sekitar masih menggunakan air sungai leuwikopo? Ya
11)  Masihkah masyarakat menggunakan air sumur cirangkong untuk kebutuhannya? Ya
12)  Apakah terjadi perubahan bau pada air sungai leuwikopo? Ya
13)  Apakah terjadi perubahan terhadap rasa pada air sungai leuwikopo? Ya

1.5.2 Menguji hipotesis

            Di situ babakan terdapat banyak sampah yang berserakan baik sampah organik maupun anorganik. Telah terjadi lebih perubahan air pada air situ babakan menjadi lebih dangkal dan keruh. Masyarakat sekitar situ babakan sudah tidak ada yang menggunakan air situ untuk kebutuhan mereka.
Pada perairan situ babakan masih terdapat ekosistem seperti populasi siput, populasi ikan beunteur, populasi kecebong, populasi cacing, dsb.
            Pada air sumur cirangkong secara fisik tidak terjadi perubahan terhadap baunya, tidak terjadi perubahan warna, dan perubahan rasa pada air sumur tersebut sehingga masyarakat cirangkong masih bisa menggunakan air sumur tersebut.
            Pada sungai leuwikopo telah terjadi sedimentasi sampah yang banyak dan cukup tinggi sehingga telah terjadi perubahan warna, rasa dan bau terhadap air sungai leuwikopo. Air sungai leuwikopo pada saat ini sudah tidak dapat di gunakan sesuai peruntukkannya. Masyarakat sekitar sudah tidak menggunakan air sungai leuwikopo untuk kebutuhan sehari-hari mereka.







BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Polusi Air
Salah satu dampak negatif dari kemjuan ilmu dan teknologi yang tidak digunakan dengan benar adalah terjadinya polusi. Polusi  adalah peristiwa masuknya zat, unsur, zat atau komponen lain yang merugikan ke dalam lingkungan akibat aktivitas manusia atau proses alami. Segala sesuatu yang menyebabkan polusi disebut polutan.
Suatu benda dapat dikatakan polutan bila kadarnya melebihi batas normal, berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Polutan dapat berupa suara, panas, radiasi, debu, bahan kimia, zat- zat yang dihasilkan makhluk hidup dan sebagainya. Adanya polutan dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan lingkungan tidak dapat mengadakan pembersihan sendiri ( regenerasi). Oleh karena itu, polusi terhadap lingkungan perlu dideteksi secara dini dan ditangani segera.
Polusi air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen lainnya ke dalam air, sehingga kualitas air terganggu yang ditandai dengan perubahan warna, baud an rasa. Beberapa contoh polutan antara lain: Fosfat yang berasal dari penggunaan pupuk buatan dan detergen, Poliklorin Bifenil (PCB) senyawa ini berasal dari pemanfaatan bahan- bahan peluma dan plastic, Minyak dan Hidrokarbon dapat berasal dari kebocoran pada roda dan kapal pengangkut minyak, logam- logam berat berasal dari industri bahan kimia dan bensin, Limbah Pertanian berasal dari kotoran hewan dan tempat penyimpanan makanan ternak, Kotoran Manusia berasal dari saluran pembuangan tinja manusia.( Djambur, 1993 )
2.2 Macam- Macam Sumber Polusi Air
Sumber polusi air antara lain sampah masyarakat, limbah industri, limbah pertanian dan limah rumah tangga. Ada beberapa tipe polutan yang dapat merusak perairan yaitu; bahan- bahan yang mengandung bibit penyakit, bahan- bahan yang banyak membutuhakan oksigen untuk penguraiannya, bahan- bhan kimia organic dari industri atau limbah pupuk pertanian, bahan- bahan yang tidak sediment, bahan- bahan yang mengandung radioaktif dan panas.
Pembuangan sampah dapat mengakibatkan kadar O2 terlarut dalam air semakin berkurang karena sebagian besar dipergunakan oleh bakteri pembusuk. Pembuangan sampah organic maupun anorganik yang dibuang kesungai terus- menerus, selain menemari air, terutama di musim hujan akan mengakibatkan banjir.
Air adalah unsur alam yang penting bagi mahluk hidup dengan sifat mengalir dan meresap. Apabila jalur aliran- alirannya tersumbat akan mengakibatkan banjir. Polusi air terjadi karena kurangnya rasa disiplian masyarakat, misalnya dalam kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan. Musibah banjir terbagi menjadi dua macam yaitu banjir banding ( besar) dan banjir genangan.
  • Banjir banding terjadi akibat air meluap dari jaur- jalur aliran (sungai) dengan volume air yang besar
  • Banjir genangan terjadi tergenangnya air hujan disuatu daerah yang saluran air dan daya serapnya terbatas. ( Salman, 1993 )
2.3 Pengukuran Pencemaran Air
Pengukuran air dapat ditentukan dengan pengukuran secara kimia dan secara biologis. Pencemaran air secara kimia adalah menentukan banyaknya bahan pencemaran atau tingkat pencemaran secara kuantitatif dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Contohnya adalah pengukuran konsumsi oksigen biologis atau Biological Oxygen Demand (BOD), pengukuran pH air dan pengukuran kadar CO2. Pengukuran pencemaran secara biologis adalah menentukan tingkat pencemaran secara kualitatif dengan menggunakan petujnuk mahluk hidup (indikator biologis). Pengukuran pencemaran air :
2.3.1        Pengukuran Secara Kimiawi

1)      Pengukuran BOD
Bahan pencemaran organik contohnya daun, bangkai, karbohidrat, dan protein akan diuraikan oleh mikroba air. Mikroba memerlukan oksigeen untuk mengoksidasikan zat-zat organik tersebut. Akibatnya, kadar oksigen terlarut di air semakin berkurang. Banyak bahan pencemar organik yang ada di perairan maka semakin banyak populasi mikroba. Semakin banyak mikroba maka semakin banyak oksigen yang digunakan sehingga kadar oksigen terlarut semakin kecil. Banyaknya oksigen terlarut yang diperlukan mikroba untuk mengoksidasikan bahan organik disebut sebagai konsumsi oksigen biologis atau Biological Oxygen Demand (BOD). Angka BOD di tetapkan dengan menghitung selisih antara oksigen terlarut awal dengan oksigen terlarut pada air cuplikan (sampel) setelah air disimpan selama 5 hari pada suhu 20oC. karenanya BOD ditulis secara lengkap BOD 205 atau BOD 5 saja. Oksigen terlarut awal di ibaratkan kadar oksigen maksimal yang dapat larut kedalam air. Biasanya, kadar oksigen dalam air diperkaya terlebih dahulu dengan oksigen agar maksimal. Setelah disimapan selama 5 hari diperkirakan bakteri telah berbiak dan menggunakan oksigen terlarut untuk oksidasi. Maka akan ada selisih antara oksigen awal dan oksigen akhir. Jadi oksigen terlarut dapat diketahui yaiut dengan mengurangi kadar oksigen awal dengan kadar oksigen akhir (setelah 5 hari). Kadar oksigen terlarut dalam air yang alami berkisar 5-7 ppm (part per million) atau satu per sejuta: 1 mg oksigen yang larut dalam 1 liter air diaktakan bahwa kadar oksigen 1 ppm. Penurunan kadar oksigen tersebut dapat disebabkan oleh tiga hal, yaitu :
1) Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.
2) Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan bakteri anaerob dari dasar perairan.
3) Proses pernafasan organisme yang hidup dalam air.
Pencemaran air, terutama yang disebabkan oleh bahan pencemar organik dapat mengurangi persediaan oksigen terlarut. Hal ini akan mengancam kehidupan organisme yang hidup di dalam air. Semakin tercemar, kadar oksigen terlarut akan semakin mengecil. Untuk dapat mengukur kadar oksigen terlarut, dilakukan dengan metode Winkler.
2)      Pengukuran pH Air
Air sungai dalam kondisi alami yang belum tercemar memiliki rentangan pH 6,5-8,5. karena pencemaran, pH air dapat menjadi lebih rendah dari 6,5 atau lebih tinggi dari 8,5. Bahan-bahan organik biasanya mengakibatkan kondisi air menjadi lebih asam. Kapur menyebabkan kondisi air manjadi alkali (basa). Jadi perubahan pH air tergantung pada macam bahan pencemarnya. Perubahan nilai pH mempunyai arti penting bagi kehidupan air. Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat alkalis) menjadi tidak cocok untuk kehidupan kebanyakan organisme. Untuk setiap perubahan satu unit skala pH (dari 7 ke 6 atau dari 5-4) diktakan keasaman naik 10 kali. Keasaman air dapat diukur dengan sederhana yaitu dengan mencelupkan kertas lakmus kedalam air untuk dilihat perubahan warnanya. Selanjutnya warna kertas dicocokan dengan warna standar yang tersedia.
3)      Pengukuran Kadar CO2
Gas CO2 juga dapat larut kedalam air. Kadar gas CO2 terlarut sangat dipengaruhi oleh susu, pH, dan banyaknya organisme yang hidup di dalam air. Semakin banyak organisme di dalam air, semakin tinggi kadar karbon dioksida terlarut (kecuali jika di dalam air terdapat tumbuhan air yang berfotosintesis). Kadar gas CO2 dapat diukur dengan cara terimetri.
2.3.2        Pengukuran Pencemaran Secara Biologis
Sebagaimana diuraikan di atas, pengukuran pencemaran air secara kimiawi dapat menentukan kadar bahan pencemar secara kuantitatif, sedangkan pengukuran pencemaran air secara biologis merupakan pengukuran secara kualitatif. Artinya pengukuran secara biologis hanya dapat menentukan seberapa besar tingkat pencemarannya, tetapi tidak dapat menentukan berapa kadar bahan pencemarnya. Pengukuran Pencemaran air secara biologis menggunakan hewan-hewan air sebagai petunjuknya (indikator). Ini disebabkan hewan-hewan air memiliki kepekaan yang berbeda terhadap bahan pencemar. Kehadiran atau ketidakhadiran hewan-hewan tersebut dapat dijadikan petunjuk tingkat pencemaran airnya. Sebagai contoh Planaria merupakan cacing pipih yang peka terhadap pencemaran. Cacing tersebut hidup di air yang jernih dan banyak oksigen. Jika air tercemar, Planaria sulit ditemukan. Jadi Planari dapat dijadikan indikator biologis tingkat pencemaran air. Jika air sungai banyak mengandung Planaria berarti air sungai tersebut belum tercemar. Jika tingkat pencemarannya semakin tinggi, populasi Planaria semakin mengecil dan akhirnya tidak ditemukan Planaria.




BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Ø  Pancaindra
Ø  Buku
Ø  Bolpoint
3.1.2 Bahan
Ø  Air danau
Ø  Air sumur
Ø  Air sungai
3.2 Lokasi
·         Situ Babakan
·         Sungai Leuwikopo
·         Sumur Cirangkong











BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Bahaya dari Polusi Air
Bibit- bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia. Berbagai polutan memerlukan O2 untuk penguraiannya. Jika O2 kurang, penguraiannya tidak sempurna dan menyebabkan air berubah warnanya dan berbau busuk. Polutan ini dapat merusak kehidupan air sekitar muara sungai dan sebagian kecil laut muara. Bahan- bahan yang berbahaya masuk ke laut atau samudera mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis kerang- kerangan  yang mungin mengandung zat- zat yang berbahaya untuk dimakan. Laut dapat pula tercemar oleh yang asalnya mungkin dari pemukiman, pabrik, melalui sungai, atau dari kapal tanker yang rusak. Minyak dapat mematikan burung dan hewan laut lainnya, sebagai contoh efek keracunan dapat dilihat di Jepang. Merkuri yang dibuang oleh sebuah industri ke teluk minamata terakumulasi di jaringan tubuh ikan dan masyarakat yang mengkonsumsinya menderita cacat dan meninggal. Banyak akibat yang ditimbulkan oleh polusi air, diantaranya:
  1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen
  2. Terjadinya ledakan ganggang dan tumbuhan air
  3. Pendangkalan dasar perairan
  4. Tersumbatnya penyaring reservoir, dan menyebabkan perubahan ekologi
  5. Dalam jangka panjang mengakibatkan kanker dan kelahiran cacat
  6. Akibat penggunaan pestisida yang berlebihan selain membunuh hama dan penyakit, juga membunuh serangga dan makhluk yang berguna terutama predator
  7. Kematian biota kuno, seperti plankton, ikan bahkan burung
  8. Dapat mengakibatkan mutasi sel kanker dan leukemia
4.2 Usaha- Usaha untuk Mencegah dan Mengatasi Polusi Air
Pengenceran dan penguraian polutan air tanah sulit sekali karena airnya tidak mengalir dan tidak mengandung bakteri pengurai yang aerob, jadi air tanah yang tercemar akan tetap tercemar dalam waktu yang lama, walau tidak ada bahan pencemaran yang masuk. Oleh karena itu banyak usaha untuk menjaga agar tanah tetap bersih, misalnya:
  1. Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah pemukiman atau perumahan
  2. Pembuangan limbah industri diatur sehinga tidak mencemari lingkungan atau ekosistem
  3. Pengawasan terhadap penggunaan jenis- jenis pestisida dan zat – zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran
  4. Memperluas gerakan penghijauan
  5. Tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan
  6. Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih mencintai lingkungannya
  7. Melakukan intensifikasi pertanian
Adapun cara lain untuk mengatasi polusi air atau yang dikenal dengan sebutan banjir. Banjir ada dua macam yaitu banjir banding dan banjir genangan.
  1. Banjir banding dapat diatasi secar meluas dengan didukung berbagai disiplin ilmu
  2. Banjir genangan dapat diatasi dengan memebersihakan air dari penyumbatan yang mengakibatkan air meluap
Banyak orang mengatakan “ lebih baik mencegah dari pada mengatasi”, hal ini berlaku pula pada banjir genangan. Ada beberapa langkah- langkah yang dilakukan untuk mencegak banjir genangan yaitu:
  1. Dalam perencanaan jalan- jalan lingkungan baik program pemerintah maupun swadaya masyarakat sebaiknya memilih material bahan yang menyerap air misalnya penggunaan bahan  dari pavling blok ( blok- blok adukan beton yang disusun denagn rongga- rongga resapan air disela- selanya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah penataan saluran lingkungan, pembuatannyapun harus bersamaan dengan pembuatan jalan tersebut.
  2. Apabila di halaman pekarangan- pekarangan rumah kita masih terdapat ruang- ruang terbuka, buatlah sumur- sumur resapan air hujan sebanyak- banyaknya. Fungsi sumur resapan air ini untuk mempercepat air meresapke dalam tanah. Dengan membuat sumur resapan air tersebut, sebenarnya kita dapat memperoleh manfaat seperti berikut:
    • Persediaan air bersih dalam tanah disekitar rumah kita cukup baik dan banyak
    • Tanah bekas galian sumur dapat dipergunakan untuk menimbun lahan- lahan yang rendah atau meninggikan lantai rumah
    • Apabila air hujan tidak tertampung oleh selokan- selokan rumah, dapat dialirkan ke sumur- sumur resapan. Jangan membuang sampah atau mengeluarkan air limbah rumah tangga (air bekas mandi, cucian dan sebagainya) ke dalam sumur resapan karena bias mencemari kandungan air tanah
    • Apabila air banjir masuk ke rumah menapai ketinggian 20- 50 cm, satu- satunya jalan adalah meninggikan lantai rumah kita di atas ambang permukaan air banjir.
    • Cara lain adalah membuat tanggul di depan pintu masuk rumah kita. Cara ini sudah umum dilakukan orang, hanya saja teknisnya sering kurang terencana secara mendetail.








BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa:
  • Akibat yang ditimbulkan dari polusi air adalah banjir, merusak system organ manusia,menimbulkan berbagai bibit penyakit, kanker, kelahiran bayi cacat dan lain- lain
  • Air situ babakan telah mengalami pencemaran dan terdapat banyak sampah berserakan sehingga air situ tidak dapat digunakan sesuai peruntukkannya
  • Air sungai leuwikopo telah mengalami pencemaran, terlihat pada sedimentasi sampah yang menggunung begitu tinggi.
  • Pada air sumur diwilayah cirangkong tidak mengalami pencemaran, terlihat pada warna, rasa, dan bau yang terdapat pada air tersebut.
5.2 Saran
Saran yang penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
  • Sebaiknya kita harus berhati- hati dalam menggunakan air karena air itu ada yang terpolusi dan ada yang tidak
  • Jagalah air di lingkungan rumah dan sekitar agar tetap bersih dan terhindar dari pencemaran air
  • Jangan membuang sampah ke sungai atau kolam, buanglah sampah pada tempatnya agar tidak terjadi pencemaran air










DAFTAR PUSTAKA

Djambur. W. Sukarno. 1993. Biologi 1 untuk Sekolah Menengan Umum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pusat perbukuan
Ahya M Salman. 1993. Biologi 1 untuk Sekolah Menengah Umum, Dekdibud, Jakarta
Santiyono. 1994. Biologi 1 untuk sekolah Menengah Umum, penerbit Erlangga
Http: //www. Google.com

3 komentar:

  1. sangat membantu, izin copynya. mudah-mudahan banyak rizkinya, Aamiin.

    BalasHapus
  2. Harrah's Las Vegas - MapyRO
    Find 포천 출장안마 the nearest casino and hotel to 김해 출장마사지 Harrah's Las Vegas. Map of rooms with 5 출장안마 or more 제주 출장마사지 bedrooms and 4 bathrooms with air conditioning, 대전광역 출장샵 indoor pools,

    BalasHapus